1dtk.com - Siapa bilang backpacking itu cuma buat anak muda? Saya dan geng bestie membuktikan kalau di usia pensiun pun masih bisa jalan-jalan ala backpacker—bedanya, kali ini lebih banyak strategi dan sedikit lebih santai.
Kami bersepuluh, semua punya pengalaman dan kecintaan terhadap traveling. Syarat utama ikut rombongan ini: jangan manja, jangan rewel soal makanan, dan nggak boleh dikit-dikit ngeluh. Kalau nggak kuat seret koper, angkat barang, atau jalan jauh, mending nggak usah ikut.
Backpacking dalam kelompok besar itu seru, tapi bisa berantakan kalau nggak kompak. Jadi, kami sepakat untuk selalu saling bantu. Misalnya, saat naik kereta, harus sigap angkat koper dan menata bagasi bareng. Begitu juga saat turun—nggak ada drama kehilangan barang karena semua saling mengingatkan, terutama soal tiket dan paspor.
Meski begitu, tetap aja ada kejadian konyol. Kami semua yakin sudah pesan tiket kereta, eh sampai stasiun baru sadar yang kami pegang tiket bus! Untung bawa kartu kredit, tinggal gesek, beres.
Strategi Bertahan di Jalan
Soal komunikasi, kami pakai paket roaming dari operator yang beda-beda, plus bawa modem roaming. Antisipasi kalau ada yang sinyalnya tiba-tiba lenyap. Lagipula, anak-anak kami di rumah juga wajib bisa monitor pergerakan kami.
Urusan koper? Nah, ini dia tantangan terbesar. Dari Jakarta, koper kami 32 kg penuh dengan barang bawaan dan titipan teman-teman di berbagai negara yang akan kami kunjungi. Masalahnya, saat naik pesawat antarnegara di Eropa, pesawatnya kecil dan bagasi terbatas. Hasilnya? Denda kelebihan bagasi! Kami pikir bisa santai aja, ternyata biaya ekstra lumayan juga kalau nggak direncanakan.
Baca juga: Belajar dari Kesalahan Memilih Mobil Sewaan untuk Road Trip di Scandinavia
Kalau naik bus atau kereta? Lebih murah sih, tapi perjuangannya luar biasa. Seret koper di tengah musim dingin dengan angin kencang itu ujian mental. Untungnya, kami selalu cari tempat penitipan koper supaya bisa jalan-jalan tanpa beban sebelum pindah ke kota berikutnya. Kalau sudah lelah? Naik taksi, sepakat dulu sama biaya, baru lanjut.
Selera Jalan-Jalan Berbeda, Solusinya?
Nggak semua dari kami punya minat yang sama. Ada yang suka sejarah, ada yang lebih tertarik shopping. Jadi, solusinya: split grup sementara dan tentukan titik kumpul.
Contohnya di Krakow, Polandia. Saya dan beberapa teman memilih ke Holocaust Memorial untuk melihat sejarah kelam di Polandia. Sementara yang lain? Entah ke mana, mungkin ke pasar atau berburu oleh-oleh. Yang penting, ada jam dan tempat janjian buat bertemu lagi.
Di negara tertentu, kami juga pakai jasa tour guide lokal supaya nggak nyasar dan bisa dapet penjelasan lebih dalam soal tempat yang dikunjungi.
Kami sepakat bahwa apartemen lebih nyaman. Bisa masak sendiri, lebih hemat, dan yang paling penting, bisa ngobrol sampai ketiduran. Tapi sesekali, kami juga menginap di hotel untuk pengalaman berbeda.
Setelah perjalanan panjang, kami semua berpisah di negara tujuan masing-masing sebelum pulang ke Indonesia. Malah makin ketagihan. Perjalanan ini membuktikan kalau umur itu cuma angka. Selama masih sehat dan semangat, traveling tetap bisa dilakukan.
Kalau ada kesempatan lagi, kapan pun, saya siap backpacking lagi!