1dtk.com - Gelaran MotoGP Amerika 2025 sudah berlalu, tapi ‘drama’ yang diciptakan Marc Marquez sebelum balapan dimulai masih menjadi bahan perbincangan di kalangan penggemar dan pengamat balap motor. Pembalap Ducati-Lenovo itu melakukan manuver tak biasa yang membuat hampir setengah dari pembalap di grid mengikuti langkahnya—berlari ke pit untuk mengganti motor beberapa saat sebelum start.
Situasi ini membuat balapan tertunda dan aturan balap kembali menjadi sorotan. Banyak yang mempertanyakan apakah Race Direction MotoGP menerapkan aturan yang benar atau justru membuat keputusan berdasarkan situasi di lapangan.
Aksi Tak Terduga Marquez yang Memicu Kekacauan
Momen mengejutkan terjadi saat para pembalap sudah bersiap di grid untuk sesi pemanasan. Tiba-tiba, Marquez melompat turun dari motor Ducati-nya dan bergegas menuju pit. Tak butuh waktu lama, beberapa pembalap lain seperti efek domino ikut melakukan hal yang sama. Mereka semua tampak mengganti motor sebelum kembali ke lintasan.
Situasi sempat terlihat kacau. Race Direction akhirnya memutuskan untuk mengulang prosedur start, menghapus sesi pemanasan, dan mengurangi jumlah putaran dari 20 menjadi 19 lap. Keputusan ini diambil demi menjaga keselamatan, mengingat lebih dari 10 pembalap memilih untuk mengganti motor di saat yang bersamaan.
Menurut laporan dari Crash, alasan di balik tindakan Marquez adalah kesalahan strategi pemilihan ban. Marquez memulai dengan ban basah, padahal kondisi trek Circuit of the Americas (COTA) sudah mulai mengering setelah hujan. Hanya tiga pembalap di grid—Brad Binder, Enea Bastianini, dan Ai Ogura—yang memilih ban slick sejak awal.
Dalam video yang diunggah oleh MotoGP melalui media sosial, terlihat Marquez dan kepala kru timnya, Marco Rigamonti, tampak yakin bahwa mereka tidak akan terkena penalti atas keputusan mengganti motor di saat-saat terakhir.
Aturan yang Sebenarnya
Sebenarnya, aturan terkait situasi seperti ini sudah ada sejak insiden serupa terjadi di MotoGP Argentina 2018. Saat itu, lebih dari 10 pembalap memilih untuk memulai balapan dari pit lane, yang akhirnya membuat Race Direction menyesuaikan regulasi.
Menurut aturan yang berlaku, ketika lebih dari 10 pembalap harus start dari pit lane, maka start harus ditunda dan prosedur baru akan diterapkan.
Tapi ada hal lain yang perlu diperhatikan:
- Jika seorang pembalap meninggalkan grid sebelum lap pemanasan untuk mengganti ban, ia harus memulai dari pit lane, kembali ke posisi grid kualifikasi, dan menjalani ride through penalty dalam balapan.
- Jika seorang pembalap meninggalkan grid setelah lap pemanasan sebelum balapan dimulai, ia harus memulai dari pit lane dan tetap menjalani ride through penalty.
Dari aturan ini, seharusnya Marquez dan pembalap lain yang mengikuti aksinya terkena hukuman ride through penalty. Namun, Race Direction yang dipimpin oleh Mike Webb membuat keputusan berbeda.
Race Direction Langgar Aturan Demi Keamanan?
Webb dan timnya memilih tidak menerapkan penalti dengan alasan keselamatan. Jika aturan ditegakkan, lebih dari 10 pembalap harus start dari pit lane, yang justru dinilai lebih berbahaya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengulang start dan menghapus sesi pemanasan.
Keputusan ini menimbulkan perdebatan. Beberapa pihak mendukung langkah Race Direction karena mempertimbangkan keselamatan pembalap. Namun, ada juga yang merasa bahwa aturan yang sudah jelas malah diabaikan, sehingga menciptakan preseden baru yang bisa menimbulkan kekacauan di balapan selanjutnya.
Mike Webb sendiri mengakui bahwa kejadian di MotoGP Amerika 2025 ini akan menjadi bahan evaluasi untuk aturan ke depannya.
Marquez Gagal Finis, Bagnaia Jadi Juara
Meski menciptakan ‘drama’ sebelum balapan, Marquez justru gagal menyelesaikan lomba. Motornya tergelincir di lap ke-9, memaksanya masuk ke pit dan akhirnya mundur dari balapan tiga lap kemudian.
Sementara itu, Francesco Bagnaia keluar sebagai pemenang, disusul oleh Alex Marquez di posisi kedua dan Fabio Giannantonio di posisi ketiga.
Insiden ini jelas akan terus menjadi bahan perbincangan, bukan hanya soal aksi Marquez, tetapi juga keputusan Race Direction yang dianggap terlalu fleksibel dalam menegakkan aturan. Akankah aturan baru kembali dibuat setelah insiden ini? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.