1dtk.com - Momen Idul Fitri selalu menjadi waktu yang dinanti-nantikan oleh banyak orang, termasuk warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Untuk mempererat tali silaturahmi antara warga binaan permasyarakatan (WBP) dengan keluarga mereka, pihak Rutan membuka layanan kunjungan tatap muka khusus selama empat hari, mulai dari 31 Maret hingga 3 April 2025.
Dua hari setelah Lebaran, suasana di depan pintu masuk Rutan Kelas IIB Rengat tampak lebih ramai dari biasanya. Sebuah tenda besar terpasang untuk menampung antusiasme keluarga yang ingin bertemu dengan kerabat mereka di dalam rutan.
"Ini hari kedua dalam layanan kunjungan tatap muka yang dilangsungkan selama empat hari, dari tanggal 31 Maret hingga 3 April 2025 dan dipenuhi dengan pengunjung yang sangat antusias untuk bertemu dengan keluarganya," ujar Karutan Ridar Firdaus Ginting melalui Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (Ka KPR), Wan Rezwanda, Selasa (1/4/2025).
Layanan kunjungan ini dibagi menjadi dua sesi untuk mengakomodasi jumlah keluarga yang datang. Sesi pagi berlangsung dari pukul 08.00 hingga 11.30, sedangkan sesi siang dibuka dari pukul 13.00 hingga 15.00.
"Kunjungan tatap muka khusus Idul Fitri ini dilakukan dua sesi atas dasar adanya kemungkinan lonjakan keluarga WBP yang ingin melakukan tatap muka di momen lebaran," jelas Wan Rezwanda.
Selain itu, pendaftaran pengunjung dilakukan langsung di lokasi. Untuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama kunjungan, setiap WBP hanya diperbolehkan menerima maksimal lima orang pengunjung, yang harus berasal dari keluarga inti.
Tak hanya itu, pengamanan kunjungan ini juga menjadi perhatian utama pihak Rutan. Rutan Kelas IIB Rengat bersinergi dengan Polsek Rengat Barat dan Rupbasan Rengat untuk memperketat pengawasan.
"Polsek Rengat Barat menurunkan dua personel, begitu juga dengan Rupbasan Rengat yang mengerahkan dua orang personel untuk mendukung keamanan kunjungan ini," kata Ka KPR.
Selain menjadi ajang silaturahmi, layanan kunjungan ini juga dimanfaatkan oleh WBP untuk menunjukkan kreativitas mereka. Dalam kesempatan ini, mereka memamerkan dan menjual berbagai hasil karya, seperti miniatur dan mainan anak-anak, dengan harga yang bervariasi mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah.
"Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan dan motivasi WBP dalam melaksanakan program pembinaan kemandirian sehingga WBP semakin semangat dalam menciptakan karya-karya yang unik serta bernilai jual tinggi," tutur Wan Rezwanda.
Inisiatif ini tak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi WBP, tetapi juga menjadi bukti bahwa mereka tetap bisa produktif dan kreatif meski berada di dalam rutan.